Agama, Status Sosial, dan Ekonomi

waluyo-ganteng4Semua orang telah faham bahwa agama adalah fitrah manusia yang ada semenjak masih di dalam rahim. Agama itu suci dan lurus. Agama ini pulalah sesuatu yang akan menuntun dan mengawal manusia untuk tetap berapa pada jalan yang lurus. Jalan yang secara fitrah tidak akan pernah bertentangan dengan hati nurani manusia. Karena Nabi SAW pernah itu bersabda yang kesimpulannya bahwa agama adalah amanat yang masuk dan menghujam dalam relung hati manusia, maka dari itu harus di jaga, dipelihara, dikembangkan, dan diaktualisasikan dengan panduan dan petunjuk al-Qur’an dan as-Sunnah.

Namun sekarang, telah banyak sekali orang berpengetahuan agama akan tetapi kehidupannya tidak agamis atau tidak berjiwa agama. Penulis mendapatkan sebuah bukti mengenai hal ini. Ada seorang kyai yang berani menjual tanah wakaf, menikahkan anaknya dengan pamannya si anak, akan sangat marah ketika setiap lebaran dibentuk panitia zakat atau ‘amil.

Seorang kyai dalam kehidupan masyarakat pada umumnya diidentifikasi sebagai orang intelek dalam hal agama atau orang paling mengerti tentang masalah agama tetapi ironisnya, mengapa kyai itu berani berbuat hal-hal yang secara agama jelas-jelas dilarang dan bahkan haram.

Kasus ini semakin lama semakin tidak terkendali, penulispun menjadi penasaran,sebenarnya motif apa yang mendasarinya. Rasa penasaran itupun akhirnya mendorong penulis untuk melakukan tindakan assesmen, yaitu mencari data dari beberapa sumber untuk kemudian data tersebut penulis identifikasi dan pelajari secara hati-hati, setelah proses identifikasi selasai maka penulispun mengambil diagnosa.

proses assesmen penulis lakukan selama satu tahun lebih. Hal ini, dalam rangka untuk mengurangi indeks error. Berdasarkan data-data yang penulis kumpulkan akhirnya dapat diambil kesimpulan bahwa keterpurukan ekonomi akan memicu siapapun dan dengan background apapun untuk melakukan suatu sikap dan perilaku yang sekiranya dapat membebaskan subjek gelap dan pengapnya keterpurukan.

Setiap orang memang diberi kebebasan untuk menentukan suatu keputusan untuk kemudian melakukan suatu tindakan. Keputusan itu dapat bernilai positif dan dapat pula negatif. Seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan luas sekaligus mampu berperilaku seperti apa yang dimilikinya itu lebih cenderung akan mengambil keputusan yang positif. Sebaliknya seseorang yang hanya memiliki ilmu pengetahuan agama tanpa sempat mengamalkannya akan lebih cenderung mengambil keputusan yang negatif. Bahkan ilmu pengetahuan agama yang dimiliki akan dijadikan kendaraan untuk mencapai goal sittingnya.

Orang-orang seperti kasus di atas akan memiliki sikap dan perilaku yang jauh lebih berbahaya jika dibandingkan dengan seorang penjahat. Seorang penjahat ketika melakukan kejahatannya akan lebih jujur dan apa adanya. hal ini, tentu berbeda dengan kejahatan yang dilakukan oleh orang yang dikira oleh masyarakat sebagai orang yang baik bahkan seorang tokoh agama. Orang-orang seperti itu ketika melakukan kejahatan akan menggunakan topeng kebaikan yang hanya orang-orang tertentu saja yang akan mengetahui kejahatannya.

Suatu kebaikan yang menggelinding dengan sendirinya akan tidak benar, begitupula kebenaran yang menggelinding sendirian juga tidak akan baik, yang tepat adalah antara kebaikan dan kebenaran menggelinding secara bersama-sama.

Kesimpulannya adalah agama dapat dijadikan kendaraan oleh sebagian orang untuk memperoleh status sosial, dengan status sosial seseorang mendapatkan peluang memperoleh kondisi perekonomian yang lebih baik. Semua ini akan dikembalikan kepada masyarakat dalam hal penilaiannya. masyarakat yang kritis dan menjunjung tinggi nilai kesucian dan kelurusan agamanya akan dapat menyeleksi mana yang baik dan mana yang tidak. Sedangkan masyrakat yang lainnya sebaiknya segera untuk belajar dari lingkungan sekitarnya.

Satu Tanggapan

  1. Kyai juga manusia, memilki kebutuhan yang harus dipenuhi. didalam kehidupan dimana kapitalis berhasil menyusup kedalam sumsum kehidupan bangsa ini, menyebabkan sikap materialistik juga menjelma menjadi panglima kehidupan. nah disaat itulah semua religi dan keimanan dipertaruhkan. Bagaimana mungkin seorang Kyai dapat bertahan dengan idealisme yang kuat tanpa dukung dari kehidupan disekelilingnya.

    Lantas, kita harus berusaha untuk menyadari kesalahan dan kembali kejalan yang benar, agar bangsa ini tidak dilaknat oleh Sang Khaliq,

    Wasalam Mu’alaikum Wr Wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: