Perfeksionis dan Permasalahannya

waluyo2Ketika itu hari sabtu jam 15.00, saya sedang mencuci baju, ada teman kecil saya yang memberitahukan bahwa saya ada tamu di kantor. Saya pun bergegas berganti pakaian karena pakaian yang tadi saya pakai basah. setelah semuanya beres sayapun menemui tamu itu. Ternyata benar, di kantor telah ada dua orang setengah baya (laki-laki dan perempuan) yang sedang menunggu saya. Saya sama sekali tidak mengenal mereka berdua, dan ternyata mereka juga belum mengenal saya. Karena sama-sama belum saling mengenal, kami pun akhirnya saling mengenalkan diri. Mereka berdua ternyata pasangan suami istri, kedua-duanya berprofesi sebagai dokter.

Setelah lumayan lama kami intro, kemudian mereka mengutarakan kedatangannya. Suaminya bercerita tentang kondisi anak laki-lakinya yang sudah jarang pulang ke rumah, jarang masuk kelas, dan sudah mau bermain PS (play station). Saat suaminya bercerita panjang lebar, si ibu menangis tersedu-sedu, sedih dengan keadaan anaknya. Sayapun hanya mengangguk-anggukkan kepala saja dengan sedikit demi sedikit memancing bapak itu untuk terus dapat bercerita tentang anaknya. Pada awalnya bapak ini berusaha untuk bersikap tegar, tapi setelah 15 menit bercerita, diapun akhirnya menangis pula.

 

Inti dari apa yang telah bapak ini ceritakan adalah bahwa dia bingung dengan apa yang sedang terjadi pada anak laki-lakinya. Bapak dan ibu ini merasa selama ini selalu mendidik anaknya dengan baik dan benar. Mereka berasumsi bahwa dengan cara mereka mendidik seperti itu, nanti anaknya akan menjadi orang yang berguna dan sukses. Apabila dilakukan suatu penilaian, sebenarnya mereka telah begitu percaya dengan apa yang telah mereka usahakan, orang dengan model seperti ini menurut Ibnu ‘Athoillah dalam kitabnya syarh al-hikam akan gampang hilangan harapannya ketika apa yang dipikirkannya gagal atau tidak terpenuhi.

Setelah cukup lama bercerita, bapak dan ibu ini memohon dengan sangat agar saya berkenan membantunya. Tepat pada pukul 16.45 saya menyatakan siap membantu dengan semampunya.  Karena waktunya sudah sore dan kami belum melaksanakan shalat ashar, maka kamipun mengadakan deal atau kesepakatan. Lewat diskusi yang singkat, saya pun menyetujuinya untuk berusaha dapat datang ke rumah bapak dan ibu ini setiap malam jum’at untuk memberikan tempat konsultasi kepada si anak.

Jam 19.30 wib malam jum’at,  saya pun berkunjung ke rumahnya. Sesampainya di sana saya langsung bertemu dengan bapaknya, karena anak sudah tidur. Tahu saya sudah di rumah, anaknya pun dibangunkan untuk menemui saya. Dengan wajah yang suram, ngantuk dan terlihat sangat keletihan mungkin baru beraktivitas dia menemui saya. Bapak dan ibunya masuk ke dalam rumah. Awalnya saya merasa bingung harus berbuat apa dengan anak ini, karena melihat kondisinya saja, saya sebenarnya tidak tega.

Intro dan sikap welcome pun saya mainkan untuk memancing anak ini agar dapat menerima saya. Sekitar 10 melakukan itu, saya mulai dapat melihat si anak secara perlahan merasa tertarik. Momen itu tidak saya sia-siakan untuk dapat memperoleh data yang sedetil-detilnya. Si anak sedikit demi sedikit mulai bercerita tentang perasaannya. Dia bercerita bahwa dirinya itu ingin mendapatkan kebebasan, ingin mandiri, ingin berafiliasi dengan teman-teman sebayanya yang selama ini belum didapatkannya.  Selama ini dia selalu dilindungi oleh orang tua, kemanapun mesti diantar oleh orang tuanya, main dengan anaka tentangganya tidak boleh, dan yang lebih parah lagi sudah kelas dua SMU, pakai kaos kaki masih dipakaikan oleh ibunya. Ketika anak ini sedang ada masalah, dia punya seseorang yang dapat diajak curhat atau yang mau mendengarkannya. Kondisi ini seiring dengan bertambahnya usia dan perkembangan mental, dan sosialnya, dia merasa jenuh berada di rumah.

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 wib. Setelah banyak sekali bercerita diapun merasa capai dan ngantuk, karena baru pulang sekolah jam 17.00 kemudian main basket. Sehabis maghrib dia harus les sama guru yang dicarikan oleh bapaknya. Diapun pamit sama saya untuk tidur. Setelah dia masuk kedua orang tuanya keluar menemui saya dan kemudian saya jelaskan apa yang sebenarnya sedang dialami oleh anaknya.

Pelajaran yang dapat diambil dari kisah ini adalah terlalu mengekang anak harus bersikap dan berperilaku perfeks itu akan menjadikan anak terkekang. Anak merasa tidak mendapatkan kepercayaan. kecerdasan sosialnya terhambat. Intinya didiklah anak secara merdeka. Merdeka tidak berarti kebebasan yang takberaturan tetapi kematangan yang otonom.

Jam di hp saya telah menunjukkan pukul 22.30 wib. sayapun pamit pulang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: