SIKAP DAN PERILAKU APRIORI DALAM PENDIDIKAN ANAK

Pendahuluan
Anak adalah anugrah, amanat, dan sekaligus juga fitnah yang dikasihkan Allah SWT bagi orang tua dan lingkungannya. Anak dikatakan sebagai anugrah jika anak tersebut tumbuh menjadi seseorang yang mampu bersikap dan berperilaku baik dan benar menurut dirinya, menurut dan bagi keluarga dan lingkungannya, serta sesuai dengan aturan Allah SWT. Seseorang yang berkarakter seperti itu berarti telah menjalankan fungsi dirinya sebagai hamba (‘ibadullah) dan sekaligus mandataris Allah SWT (khalifatullah) di muka bumi ini (Qs. Ad-Dzariyat: 56 dan Qs. Al-Ahzab: 72). Pada umumnya, orang seperti ini ketika mau menentukan suatu sikap dan berperilaku tidak lagi berdasarkan pertanyaan ”apa yang bisa dilakukan” tetapi unsur nilai telah mengalir di dalam nadinya. Nilai di sini tentunya adalah nilai yang selaras dan sejalan dengan hati nurani yang paling dalam, dimana hati yang terdalam itu merupakan dentuman riak energi Allah SWT.
Setiap bayi yang lahir adalah amanat yang diberikan Allah SWT kepada orang tuanya dan juga lingkungannya. Amanat ini berupa kefitrahan yang dimiliki oleh si bayi, yaitu fitrah untuk selalu berkecendrungan mensucikan dan mentauhidkan Allah SWT (Qs. Al-A’raf: 172). Fitrah ini juga nantinya akan menempatkan si jabang bayi pada derajat yang termulya dan tertinggi diantara para mahluk yang lain, yaitu sebagai suatu mahluk yang memiliki dua fungsi utama di dunia ini, fungsi sebagai hamba Allah SWT dan sekaligus sebagai khalifah (Qs. Ad-Dzariyat: 56 dan Qs. Al-Ahzab: 72). Hal ini akan terjadi jika orang tua dan lingkungannya mau mempelajari, memahami, menjaga, dan membantu mengaktualisasikan fitrah tersebut dengan ilmu dan akhlak. Sebaliknya, jika orang tua dan lingkungannya tidak peduli dengan hal ini maka yang akan terjadi adalah si jabang bayi tumbuh menjadi sesuatu yang tidak lebih baik daripada hewan. Hidupnya tidak lagi berenergikan nilai ke-Tuhan-an, tetapi insting hewani justru mendominasi (Qs. Al-A’raf: 179).
Kehadiran seorang anak manusia bagi orang tua dan lingkungan merupakan fitnah. Fitnah yang dimaksud di sini adalah cobaan atau ujian (Qs. At-Taghaabun: 15). Segala cobaan atau ujian nantinya akan mendapat penilaian. Penilainya adalah Allah SWT. Penilaian Allah SWT bukan pada apa yang ada pada orang itu, tetapi bagaimana orang tersebut mendayagunakan apa yang ada dalam dirinya (Qs. Al-Maidah: 48). Anak sebagai cobaan atau ujian akan mengantarkan orang tua dan lingkungannya menjadi orang tua dan masyarakat yang berpredikat selalu ingat atau lalai kepada Allah SWT (Qs. Al-Munafikuun: 9).
Jadi, anak merupakan sesuatu yang dititipkan oleh Allah SWT kepada orang tua dan lingkungannya. Dalam titipan tersebut terdapat amanat yang harus dipelajari, difahami, dijaga, dan diaktualisasikan. Hal ini, karena nantinya semua itu akan diuji dan dinilai oleh Allah SWT. Adapun indikator seseorang dikatakan berhasil menghadapi ujian itu dengan nilai yang baik adalah jika orang tersebut semakin ingat, bertambah keimanannya, merasakan lezatnya iman, dan berpulang kepada Allah SWT dengan membawa imannya.
Seorang anak yang tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang mampu bersikap dan berperilaku baik dan benar menurut dirinya, menurut dan bagi keluarga dan lingkungannya, serta sesuai dengan aturan Allah SWT merupakan gambaran suatu pribadi yang berilmu dan berakhlak. Ilmu digunakan untuk mengeksplorasi dan mengaktualisasi diri dan lingkungannya, kemudian akhlak berperan membimbing supaya apa yang dikerjakannya baik, benar dan tepat.
Pribadi seperti inilah yang dinanti-nanti keberadaannya di dunia ini. Keberadaannya akan menyeimbangkan situasi dan kondisi alam semesta. Sudah sewajarnya dan merupakan suatu fitrah jika setiap orang tua berharap putra-putrinya tumbuh dan berkembang menjadi pribadi seperti itu. Besarnya harapan yang ada dalam diri orang tua terkadang dapat menimbulkan sikap apriori.
Penulis telah mendapatkan berbagai pengalaman menangani kasus yang terkait dengan hal ini, yaitu efek yang diderita anak akibat sikap dan perilaku apriori orang tua. Salah satu dari sekian banyak kasus yang penulis tangani adalah seorang anak yang brutal dan agresif ketika berada di luar rumah, tetapi menjadi anak yang manis ketika di rumah. Pernah suatu waktu anak ini mencuri delapan buah sepeda onthel dan tertangkap oleh petugas keamanan. Kasus ini setidaknya telah memberikan informasi bahwa ada ketidakberesan dalam pendidikan anak di lingkungan keluarga. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa penelusuran terhadap kasus-kasus yang terjadi dalam pendidikan anak baik dalam lingkungan rumah, sekolah, maupun masyarakat adalah penting. Penelusuran kasus ini akan dipaparkan dalam ilustrasi cerita dari beberapa kasus yang penulis tangani. Kasus yang yang terperinci kemudian diinduksikan menjadi suatu sintesa umum. Harapan yang muncul dalam benak penulis mengenai hal ini adalah ketulusan berbagi pengalaman tentang dunia anak dan pengalaman ini menjadi perhatian dan bahan pembelajaran bagi setiap calon orang tua dan orang tua itu sendiri.

Cerita Kasus Pertama
Ada seorang anak kelas satu setingkat SLTP jarang masuk sekolah, kalaupun masuk di kelas hampir 80% dipastikan tidur. Ketika dia tidak tidur pasti bikin kisruh sehingga kenyamanan kegiatan belajar mengajar terganggu. Setiap hari setidak-tidaknya membawa buku tidak lebih dari dua, itupun minim sekali tulisan pelajaran. Karena hal inilah, si anak ini tidak naik kelas. Sekarang seharusnya sudah kelas dua.
Dalam hal seragam, jarang rapi, bajunya dikeluarkan dan tidak jarang pula tidak memakai sepatu. Waktu istirahat setelah pulang sekolah digunakan untuk bermain PS (play station). Tapi pada suatu waktu, ketika penulis sedang mencuci WC anak ini datang dan menawarkan diri untuk membantu. Penulispun mengijinkannya, dan ternyata anak ini mampu membersihkan satu kamar mandi dengan hasil yang lumayan bersih.
Fenomena yang terjadi pada anak ini ternyata telah mengundang penasaran pada diri penulis untuk bertindak sesuatu. Langkah awal yang penulis lakukan adalah mengumpulkan data mengenai anak tersebut melalui: 1) observasi, 2) wawancara dengan subjek, teman, guru, saudara, dan orang tuanya terutama ibunya. Langkah kedua, mempelajari dan mengidentifikasi data untuk kemudian melakukan diagnosa.
Kesimpulan yang penulis dapatkan adalah sebagai berikut:
1. Anak ini ternyata telah terkena dan membawa efek dari didikan apriori orang tuanya, yaitu perfectionism. Ibunya adalah seorang intelektual dalam dunia pendidikan. Ibunya ini menikah dalam usia yang sudah relatif tua. Pada saat anak ini lahir- kebetulan ini anak pertama-dalam pikiran ibunya telah muncul rencana akan mendidiknya menjadi seorang yang sempurna. Rencana itu kemudian diprogramkan dan diterapkan semenjak si anak masih balita. Anak ini dituntut untuk selalu sempurna dalam hal dan dengan cara apapun, namun keadaan riil anak tidak mendukung. Anak tidak mampu mengikuti idealisme ibunya. Si anak hidup dalam tekanan dan kendali idealisme ibunya. Kondisi ini berjalan sampai kelas enam SD (sekolah dasar). Setelah lulus SD dia melanjutkan ke sekolah setingkat SLTP di luar daerah yang jauh dari orang tuanya. Momen jauh dari orang tuanya inilah dia kemudian berusaha mengeluarkan segala tekanan yang selama ini diterimanya ketika di rumah dengan berbagai macam kegiatan, hanya saja sayangnya pelampiasannya kurang positif sehingga kegiatan tersebut kurang dapat membantu dalam perkembagan ke arah yang lebih baik.
2. Ketika di sekolah si anak kurang mendapat perhatian dan dukungan agar lebih maju. Hal ini tampak dari penekanan yang terlalu berlebihan pada ranah kognitif dalam sistem pembelajaran. Padahal anak ini memiliki kekurangan dalam ranah itu, terlebih lagi dia telah membawa bekal trauma sistem pembelajaran yang diberikan oleh orang tuanya. Sistem pembelajaran yang ada di sekolahnya kurang mengedepankan pemberdayaan kompetensi yang dimiliki oleh masing-masing murid. Mungkin sekolah berasumsi bahwa semua anak memiliki kompetensi yang sama. Situasi ini disikapi negatif oleh si anak, yaitu dengan lebih banyak menghindar dari pelajaran.
3. Anak di lingkungannya juga mudah sekali mendapat atribut negatif. Atribut ini sebenarnya diberikan karena ulah si anak itu sendiri. Walaupun begitu tetaplah sikap selalu memberikan atribut negatif pada seseorang bukanlah suatu cara yang positif untuk membantu mengeluarkan anak dari keterpurukan.
Kesimpulan umumnya adalah sekali kita melakukan suatu kesalahan dalam mendidik anak, hal itu memiliki dampak yang luar biasa bagi kelangsungan hidupnya. Pendidikan dalam keluarga adalah pondasi utama yang kuat bagi anak. Terimalah anak apa adanya. Jangan memaksakan sesuatu kepada anak yang dia tidak memiliki kemampuan untuk itu. Didiklah anak sesuai dengan apa yang dimilikinya yang unik dan khas. Keunikan dan kekhasan yang ada dalam diri anak jika dikembangkan dan diaktualisasikan secara baik, benar dan tepat justru akan menjadi suatu kekuatan, yang dengannya itu dia memiliki identitas yang berbeda dengan orang lain.

Cerita Kasus Kedua Seorang anak telah mengejutkan penulis. Suatu ketika dia ditangkap oleh petugas keamanan pada sebuah pasar sepeda di suatu daerah. Polisi melaporkan hal ini ke lembaga di mana penulis pada waktu itu mengabdikan diri. Polisi melaporkan bahwa anak ini telah mencuri delapan sepeda onthel. Saat itu umur si anak masih 12 tahun. Penulis mendapatkan informasi yang lumayan membuat penasaran, yaitu bahwa motif si anak ini mencuri adalah iseng.
Karena rasa penasaran itulah, kemudian penulis mencoba untuk menelusuri kehidupan si anak ketika masih di rumah. Orang tuanyapun dipanggil. Informasi yang penulis dapatkan dari orang tua adalah sesungguhnya anak ini ketika di rumah merupakan anak yang rajin, taat dan patuh pada orang tua. Penulispun tambah penasaran.
Setelah mendapat informasi dari orang tuanya kemudian penulis kembangkan ke informasi dari teman-teman sekamarnya. Teman-temannya melaporkan bahwa anak ini ketika di kamar lebih cenderung ingin berbuat semaunya sendiri.
Penulis memang tidak mencari informasi langsung dari si anak terlebih dahulu, tapi dari orang tua dan teman-temanya. Setelah informasi itu penulis anggap cukup kemudian penulis mencari informasi ke subjek. Cukup lama penulis menstimulasi agar si anak ini dapat berterus terang agar mau memberikan informasi yang sebenarnya, tapi akhirnya berhasil. Si anak memberi informasi bahwa ketika di rumah selalu merasa sakit ketika melakukan kesalahan atau akan mendapat perlakuan yang menyakitkan ketika tidak menjalankan apa yang diperintahkan oleh kedua orang tuanya. Untuk menghindari rasa sakit itulah si anak berperilaku rajin, taat, dan patuh.
Berdasarkan keterangan di atas maka penulis dapat menyimpulkan, bahwa ada sebagian orang tua yang mendidik anaknya dengan kekerasan. Para orang tua yang beraliran seperti itu berasumsi bahwa dengan cara inilah anaknya akan menjadi generasi penerus yang baik, patuh dan taat kepada orang tuanya. Akan tetapi apa yang diasumsikan oleh mereka ternyata secara signifikan tertolak, setidaknya kasus di atas memberi bukti penyangkalan tersebut. Para orang tua mestinya mengerti dan faham bahwa tidak ada manusia di dunia ini selain Nabi yang sempurna. Justru dengan adanya kesalahan telah menunjukkan bahwa mereka manusia sejati dan dengan kesalahan itulah mereka dapat mencari mana yang lebih baik.

Cerita Kasus Ketiga
Ada seorang mahasiswi yang penulis temukan memiliki karakter yang bagi penulis agak jarang ditemukan. Mahasiswi ini lumayan cerewet. Fokus penulis sebenarnya bukan pada kecerewetannya tapi pada bagian dia suka menceritakan segala apapun yang terjadi pada dirinya kepada orang lain dengan tanpa menyeleksinya terlebih dahulu. Ketidakumuman ini kemudian mempengaruhi penulis untuk mempelajarinya. Hampir satu setengah tahun waktu yang dibutuhkan untuk meneliti apa sebenarnya yang telah terjadi.
Satu setengah tahun itu penulis gunakan untuk mengumpulkan informasi sedetil-detilnya, terutama kejadian pada masa lalunya, yakni ketika masih di rumah. Mahasiswi ini anak ke tiga dari empat bersaudara. Sejak masih kecil dia selalu dibanding-bandingkan dengan saudaranya. Kebetulan dia secara fisik memang lebih hitam dari kakak perempuannya, tapi sebenarnya tidak menutupi kemanisannya. Selain itu, dia setiap kali mendapatkan suatu prestasi jarang sekali mendapatkan apresiasi dari orang tuanya, berbeda dengan saudaranya yang lain.
Perlakuan orang tuanya yang telah berjalan semenjak kecil itu ternyata terbawa sampai dia dewasa dan telah mendorong dirinya untuk mendapatkan apresiasi dari pihak di luar keluarga. Tidak hanya itu, mahasiswa inipun menjadi mudah was-was ketika akan melakukan sesuatu. Dia takut salah.
Kesimpulannya adalah perlakuan orang tua pada masa kanak-kanak akan membentuk karakter anaknya sampai dewasa. Perilaku membanding-bandingkan anak antara yang satu dengan lainnya akan membentuk pribadi anak menjadi tidak berkembang. Anak menjadi kurang percaya diri. Kekurangan perhatian dari orang tua akan menjadikan si anak mencari perhatian di luar keluarga. Hal ini akan berbahaya jika ternyata dia mendapatkan perhatian dari orang yang tidak tepat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: