ESSENSI HIJRAH DAN EVALUASI DIRI

Hijrah secara bahasa artinya pindah. Perpindahan ini dapat berarti perpindahan tempat, waktu, orientasi, ideologi, dan lain sebagainya. Arah perpindahan bisa dari sesuatu yang lama menuju ke sesuatu yang baru, atau dari sesuatu yang baru ke sesuatu yang lama. Motif orang melakukan hijrah pun bermacam-macam dan berbeda-beda. Ada yang karena sudah ada perasaan bosen dengan sesuatu yang dahulu sehingga dirasa perlu ada pembaharuan supaya menjadi fresh kembali. Adapula yang pindah karena untuk keselamatan, entah keselamatan fisik, batin, agama, ideologi, dan lain sebagainya.

Pada dasarnya hijrah itu untuk mencari dan mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Namun, sebaiknya sebelum hijrah itu dilakukan, terlebih dahulu melakukan evaluasi secara matang tentang sesuatu yang akan ditinggalkan. Dinilai mana yang baik dan mana jelek, kelebihan dan kekurangannya. Setelah itu ditimbang, mana yang lebih unggul atau lebih banyak, positif atau negatifnya. Bisa juga dengan memperitimbangkan lebih besar mana antara manfaat dan bahayanya.

Masing-masing orang memiliki perspektif sendiri-sendiri dalam mempertimbangkan sesuatu sebagai bahan untuk evaluasi. Ada yang mempertimbangkan berdasarkan perspektif ekonomi, politik, agama, pendidikan, dan lain sebagainya. Perspektif ini akan spesifik pada masing-masing orang, hal ini karena background kehidupan yang melatarbelakangi. Akan tetapi ada juga orang yang menggunakan perspektif holistik.

Untuk memperoleh hasil evaluasi yang baik hendaklah segala sesuatunya diproses melalui akal sehat, dirasakan dengan hati nurani karena hati nurani merupakan sumber pancaran ilahi, setelah antara akal sehat dan hati nurani ini mengkonversi baru kemudian merencanakan suatu tindakan yang dirasa baik, benar tepat menurutnya, bagi dan menurut orang lain, serta sesuai dengan aturan Tuhan.

Satu dua hari lagi kita akan menapaki tahun baru, masih ada waktu untuk melakukan evaluasi diri. Evaluasi diri penting dilakukan agar kita paham dan mengerti tentang diri sendiri. Mana hal-hal baik yang harus tetap dipertahankan sebagai warisan tahun lalu dan mana yang mesti harus ditinggalkan untuk kemudian memberanikan diri terbuka mengambil sesuatu yang baik dan bersifat baru.

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH DAN TAHUN BARU MASEHI. SEMOGA SEGALA KESALAHAN YANG TELAH KITA LAKUKAN PADA TAHUN LALU DIMAAFKAN OLEH TUHAN DAN MENJADI PELAJARAN SERTA SESUATU YANG SEKIRANYA BAIK DAPAT MENJADI BEKAL KITA UNTUK MENGARUNGI TAHUN-TAHUN BERIKUTNYA SEHINGGA SEMOGA KITA MENJADI ORANG YANG SELALU SADAR KETIKA BERTINDAK DAN MENDEKATI KESEMPURNAAN SEBAGAI MANUSIA. AMIN……..

Iklan

SIKAP DAN PERILAKU APRIORI DALAM PENDIDIKAN ANAK

Pendahuluan
Anak adalah anugrah, amanat, dan sekaligus juga fitnah yang dikasihkan Allah SWT bagi orang tua dan lingkungannya. Anak dikatakan sebagai anugrah jika anak tersebut tumbuh menjadi seseorang yang mampu bersikap dan berperilaku baik dan benar menurut dirinya, menurut dan bagi keluarga dan lingkungannya, serta sesuai dengan aturan Allah SWT. Seseorang yang berkarakter seperti itu berarti telah menjalankan fungsi dirinya sebagai hamba (‘ibadullah) dan sekaligus mandataris Allah SWT (khalifatullah) di muka bumi ini (Qs. Ad-Dzariyat: 56 dan Qs. Al-Ahzab: 72). Pada umumnya, orang seperti ini ketika mau menentukan suatu sikap dan berperilaku tidak lagi berdasarkan pertanyaan ”apa yang bisa dilakukan” tetapi unsur nilai telah mengalir di dalam nadinya. Nilai di sini tentunya adalah nilai yang selaras dan sejalan dengan hati nurani yang paling dalam, dimana hati yang terdalam itu merupakan dentuman riak energi Allah SWT.
Setiap bayi yang lahir adalah amanat yang diberikan Allah SWT kepada orang tuanya dan juga lingkungannya. Amanat ini berupa kefitrahan yang dimiliki oleh si bayi, yaitu fitrah untuk selalu berkecendrungan mensucikan dan mentauhidkan Allah SWT (Qs. Al-A’raf: 172). Fitrah ini juga nantinya akan menempatkan si jabang bayi pada derajat yang termulya dan tertinggi diantara para mahluk yang lain, yaitu sebagai suatu mahluk yang memiliki dua fungsi utama di dunia ini, fungsi sebagai hamba Allah SWT dan sekaligus sebagai khalifah (Qs. Ad-Dzariyat: 56 dan Qs. Al-Ahzab: 72). Hal ini akan terjadi jika orang tua dan lingkungannya mau mempelajari, memahami, menjaga, dan membantu mengaktualisasikan fitrah tersebut dengan ilmu dan akhlak. Sebaliknya, jika orang tua dan lingkungannya tidak peduli dengan hal ini maka yang akan terjadi adalah si jabang bayi tumbuh menjadi sesuatu yang tidak lebih baik daripada hewan. Hidupnya tidak lagi berenergikan nilai ke-Tuhan-an, tetapi insting hewani justru mendominasi (Qs. Al-A’raf: 179).
Kehadiran seorang anak manusia bagi orang tua dan lingkungan merupakan fitnah. Fitnah yang dimaksud di sini adalah cobaan atau ujian (Qs. At-Taghaabun: 15). Segala cobaan atau ujian nantinya akan mendapat penilaian. Penilainya adalah Allah SWT. Penilaian Allah SWT bukan pada apa yang ada pada orang itu, tetapi bagaimana orang tersebut mendayagunakan apa yang ada dalam dirinya (Qs. Al-Maidah: 48). Anak sebagai cobaan atau ujian akan mengantarkan orang tua dan lingkungannya menjadi orang tua dan masyarakat yang berpredikat selalu ingat atau lalai kepada Allah SWT (Qs. Al-Munafikuun: 9).
Jadi, anak merupakan sesuatu yang dititipkan oleh Allah SWT kepada orang tua dan lingkungannya. Dalam titipan tersebut terdapat amanat yang harus dipelajari, difahami, dijaga, dan diaktualisasikan. Hal ini, karena nantinya semua itu akan diuji dan dinilai oleh Allah SWT. Adapun indikator seseorang dikatakan berhasil menghadapi ujian itu dengan nilai yang baik adalah jika orang tersebut semakin ingat, bertambah keimanannya, merasakan lezatnya iman, dan berpulang kepada Allah SWT dengan membawa imannya.
Seorang anak yang tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang mampu bersikap dan berperilaku baik dan benar menurut dirinya, menurut dan bagi keluarga dan lingkungannya, serta sesuai dengan aturan Allah SWT merupakan gambaran suatu pribadi yang berilmu dan berakhlak. Ilmu digunakan untuk mengeksplorasi dan mengaktualisasi diri dan lingkungannya, kemudian akhlak berperan membimbing supaya apa yang dikerjakannya baik, benar dan tepat.
Pribadi seperti inilah yang dinanti-nanti keberadaannya di dunia ini. Keberadaannya akan menyeimbangkan situasi dan kondisi alam semesta. Sudah sewajarnya dan merupakan suatu fitrah jika setiap orang tua berharap putra-putrinya tumbuh dan berkembang menjadi pribadi seperti itu. Besarnya harapan yang ada dalam diri orang tua terkadang dapat menimbulkan sikap apriori.
Penulis telah mendapatkan berbagai pengalaman menangani kasus yang terkait dengan hal ini, yaitu efek yang diderita anak akibat sikap dan perilaku apriori orang tua. Salah satu dari sekian banyak kasus yang penulis tangani adalah seorang anak yang brutal dan agresif ketika berada di luar rumah, tetapi menjadi anak yang manis ketika di rumah. Pernah suatu waktu anak ini mencuri delapan buah sepeda onthel dan tertangkap oleh petugas keamanan. Kasus ini setidaknya telah memberikan informasi bahwa ada ketidakberesan dalam pendidikan anak di lingkungan keluarga. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa penelusuran terhadap kasus-kasus yang terjadi dalam pendidikan anak baik dalam lingkungan rumah, sekolah, maupun masyarakat adalah penting. Penelusuran kasus ini akan dipaparkan dalam ilustrasi cerita dari beberapa kasus yang penulis tangani. Kasus yang yang terperinci kemudian diinduksikan menjadi suatu sintesa umum. Harapan yang muncul dalam benak penulis mengenai hal ini adalah ketulusan berbagi pengalaman tentang dunia anak dan pengalaman ini menjadi perhatian dan bahan pembelajaran bagi setiap calon orang tua dan orang tua itu sendiri.
Baca lebih lanjut

Agama, Status Sosial, dan Ekonomi

waluyo-ganteng4Semua orang telah faham bahwa agama adalah fitrah manusia yang ada semenjak masih di dalam rahim. Agama itu suci dan lurus. Agama ini pulalah sesuatu yang akan menuntun dan mengawal manusia untuk tetap berapa pada jalan yang lurus. Jalan yang secara fitrah tidak akan pernah bertentangan dengan hati nurani manusia. Karena Nabi SAW pernah itu bersabda yang kesimpulannya bahwa agama adalah amanat yang masuk dan menghujam dalam relung hati manusia, maka dari itu harus di jaga, dipelihara, dikembangkan, dan diaktualisasikan dengan panduan dan petunjuk al-Qur’an dan as-Sunnah.

Namun sekarang, telah banyak sekali orang berpengetahuan agama akan tetapi kehidupannya tidak agamis atau tidak berjiwa agama. Penulis mendapatkan sebuah bukti mengenai hal ini. Ada seorang kyai yang berani menjual tanah wakaf, menikahkan anaknya dengan pamannya si anak, akan sangat marah ketika setiap lebaran dibentuk panitia zakat atau ‘amil.
Baca lebih lanjut