Semut dan Tahun Baru

Menjelang tahun baru ini saya mendapatkan guru yang mampu membuat saya menangis walaupun beliau tidak mengucapkan suatu kata apapun, satu huruf pun sama sekali tidak. Tetapi dalam kebisuannya mengalir dan menginternalisasi beribu-ribu nasehat dan pelajaran langsung ke dalam hatiku.
Pertemuanku dengannya sebenarnya tidak sengaja. Pagi tadi sekitar jam 10.00 WIB, saya sedang sarapan mengetik artikel di kamar sambil merokok dan minum kopi. Saat sedang minum kopi, ada seekor semut yang ikut dengan kopi dan masuk ke dalam mulutku. Karena saya merasakan ada yang tidak beres di mulut, maka saya ambil sesuatu itu, kemudian saya lihat, dan ternyata seekor semut. Untungnya si semut tidak mati karena tajamnya gigi saya. Lalu saya letakkan dia di lantai dan saya bersihkan dia dari kopi yang menyelimuti tubuhnya.
Karena kopi yang ada pada tubuhnya ini lumayan kental, jadi sedikit lama untuk mengeringkannya. Proses pengetikkan pun saya hentikan.
Saya tiup tubuhnya dengan nafas yang belum gosok gigi supaya cepat kering. Kira-kira setelah seperempat jam, tubuh si semut pun sudah mulai mengering dan dia dapat kembali menggerak-gerakkan kakinya.
Setelah saya anggap dia dapat bergerak, proses pengetikkan dilanjutkan sambil sesekali menolehkan mata ke arah si semut.
Saat penolehan mata yang ke lima, datang seekor semut yang sejenis menghampirinya dan mengelus-elus tubuh semut yang masuk ke dalam kopi tersebut. Melihat hal itu, pengetikkan kembali saya hentikan untuk kembali memperhatikan tingkah laku kedua semut itu.
Setelah lumayan lama, semut yang kedua menggendong semut yang pertama. Saat itulah air mata saya mengalir dengan sendirinya.
Melihat hal itu sayapun tertegun dan merenung, seekor semut yang diklaim oleh para manusia tidak memiliki hati dan akal, ternyata membuktikan pada manusia setidaknya pada diri saya, bahwa dia mampu berbuat yang terbaik untuk saudaranya yang sejenis, bahkan mampu memberikan dan menginternalisasikan nilai-nilai positif kepada saya. Dia berkenan untuk melakukan kebaikkan tanpa harus mengumbar janji-janji. Nasehatnya pun tidak keluar dari gugusan-gugusan huruf yang memanjang tanpa batas. Semut lebih memberikan bukti dari pada janji.
Saya sebagai manusia pun merasa malu. Terima kasih guru sejati

Check out my Slide Show!

IBU ! SEBESAR APAPUN BAKTIKU TAK SEBANDING JASAMU

Ibu, sosok tak terdefinisikan setelah Allah dan Nabinya
Kertas dan pena tak berdaya mengurainya
Seberapapun air menggenang, kan terserap olehnya
Dirinya lebih mulya daripada emasnya

Ridlo dan murka Allah di kata-katanya
Surga di senyumnya
Neraka di sakit hatinya
Denyut nadinya menyertainya

Perfeksionis dan Permasalahannya

waluyo2Ketika itu hari sabtu jam 15.00, saya sedang mencuci baju, ada teman kecil saya yang memberitahukan bahwa saya ada tamu di kantor. Saya pun bergegas berganti pakaian karena pakaian yang tadi saya pakai basah. setelah semuanya beres sayapun menemui tamu itu. Ternyata benar, di kantor telah ada dua orang setengah baya (laki-laki dan perempuan) yang sedang menunggu saya. Saya sama sekali tidak mengenal mereka berdua, dan ternyata mereka juga belum mengenal saya. Karena sama-sama belum saling mengenal, kami pun akhirnya saling mengenalkan diri. Mereka berdua ternyata pasangan suami istri, kedua-duanya berprofesi sebagai dokter.

Setelah lumayan lama kami intro, kemudian mereka mengutarakan kedatangannya. Suaminya bercerita tentang kondisi anak laki-lakinya yang sudah jarang pulang ke rumah, jarang masuk kelas, dan sudah mau bermain PS (play station). Saat suaminya bercerita panjang lebar, si ibu menangis tersedu-sedu, sedih dengan keadaan anaknya. Sayapun hanya mengangguk-anggukkan kepala saja dengan sedikit demi sedikit memancing bapak itu untuk terus dapat bercerita tentang anaknya. Pada awalnya bapak ini berusaha untuk bersikap tegar, tapi setelah 15 menit bercerita, diapun akhirnya menangis pula.

  Baca lebih lanjut