Perfeksionis dan Permasalahannya

waluyo2Ketika itu hari sabtu jam 15.00, saya sedang mencuci baju, ada teman kecil saya yang memberitahukan bahwa saya ada tamu di kantor. Saya pun bergegas berganti pakaian karena pakaian yang tadi saya pakai basah. setelah semuanya beres sayapun menemui tamu itu. Ternyata benar, di kantor telah ada dua orang setengah baya (laki-laki dan perempuan) yang sedang menunggu saya. Saya sama sekali tidak mengenal mereka berdua, dan ternyata mereka juga belum mengenal saya. Karena sama-sama belum saling mengenal, kami pun akhirnya saling mengenalkan diri. Mereka berdua ternyata pasangan suami istri, kedua-duanya berprofesi sebagai dokter.

Setelah lumayan lama kami intro, kemudian mereka mengutarakan kedatangannya. Suaminya bercerita tentang kondisi anak laki-lakinya yang sudah jarang pulang ke rumah, jarang masuk kelas, dan sudah mau bermain PS (play station). Saat suaminya bercerita panjang lebar, si ibu menangis tersedu-sedu, sedih dengan keadaan anaknya. Sayapun hanya mengangguk-anggukkan kepala saja dengan sedikit demi sedikit memancing bapak itu untuk terus dapat bercerita tentang anaknya. Pada awalnya bapak ini berusaha untuk bersikap tegar, tapi setelah 15 menit bercerita, diapun akhirnya menangis pula.

  Baca lebih lanjut

Iklan

Agama, Status Sosial, dan Ekonomi

waluyo-ganteng4Semua orang telah faham bahwa agama adalah fitrah manusia yang ada semenjak masih di dalam rahim. Agama itu suci dan lurus. Agama ini pulalah sesuatu yang akan menuntun dan mengawal manusia untuk tetap berapa pada jalan yang lurus. Jalan yang secara fitrah tidak akan pernah bertentangan dengan hati nurani manusia. Karena Nabi SAW pernah itu bersabda yang kesimpulannya bahwa agama adalah amanat yang masuk dan menghujam dalam relung hati manusia, maka dari itu harus di jaga, dipelihara, dikembangkan, dan diaktualisasikan dengan panduan dan petunjuk al-Qur’an dan as-Sunnah.

Namun sekarang, telah banyak sekali orang berpengetahuan agama akan tetapi kehidupannya tidak agamis atau tidak berjiwa agama. Penulis mendapatkan sebuah bukti mengenai hal ini. Ada seorang kyai yang berani menjual tanah wakaf, menikahkan anaknya dengan pamannya si anak, akan sangat marah ketika setiap lebaran dibentuk panitia zakat atau ‘amil.
Baca lebih lanjut