KENYAMANANKU yang TERKADANG

Pertanyaan-pertanyaan liar selalu melilit tanpa rantai huruf yang terserat pena dan terungkap dalam lilinan lidah dalam diriku

Kadang pertanyaan itu menyambar-menyambar dalam benak, kadangpula merangkak dalam senyap

Kadang pertanyaan itu menyemburkan wewangian nan semerbak, kadangpula sengatan bangkai mengiringi

Kadang pertanyaan itu berlarian dengan liarnya, kadangpula duduk teratur

Kadang pertanyaan itu memukuli diri tanpa ampun, kadangpula memeluk mesra

Kadang pertanyaan itu membuat chaos eksistensi, kadangpula melukis paronama perilaku indah

Akupun mencuci diri ini dengan busa cahaya putih yang menggumpal dalam langit hati, ku luluri darah nadi, nafas, energi ini kemudian ku terbangkan lewat dinding tulang belakang, menelusuri angkasa otak belakang, terus membumbung, menghujam lapisan-lapisan langit sehingga tersimpuh di hadapan singgasana Sang Penguasa Alam

IBU ! SEBESAR APAPUN BAKTIKU TAK SEBANDING JASAMU

Ibu, sosok tak terdefinisikan setelah Allah dan Nabinya
Kertas dan pena tak berdaya mengurainya
Seberapapun air menggenang, kan terserap olehnya
Dirinya lebih mulya daripada emasnya

Ridlo dan murka Allah di kata-katanya
Surga di senyumnya
Neraka di sakit hatinya
Denyut nadinya menyertainya